Rabu, 20 Mei 2015

MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN



MENANTI HUJAN DARI MATAHARI

 
Cobalah saudara/i baca dengan pikiran yang tenang dan jiwa yang damai
assalamualaikum wr.wb
Suatu ketika sekelompok petani bergabung dengan sekelompok penjual payung dan jas hujan melakukan demo kerumah suci Tuhan. Mereka berunjuk rasa memprotes panas matahari sepanjang musim kemarau yang membuat sawah mereka kekeringan. Dan hujan yang tak oernah datang lebih dari sepuluh tahun itu membuat penjual jas hujan tidak mendapat penghasilan sama sekali.
Tuhan yang maha mendengar tentu saja memahami perasaan dan keinginan dari sekelompok ummatnya tersebut. Namun untuk mengajari mereka kebenaran, sesuatu harus ddilakukan. Dengan kuasanya, maka ditutupilah cahaya matahari dengan bulan selama siang hari sepanjang musim kemarau. Para petani dan penjual jas hujan gembira luar biasa karena do’a mereka di dengar dan dikabulkan Tuhan. Mualilah mereka berharap dan menunggu datangnya hujan.
Berbulan-bulan dinantikan, nyatanya hujan tak juga kunjung datang. Padahal matahari sudah tak lagi bersinar trik dan panas akibat gerhana. Bahkan ketika musim sudah semestinya memasuki masa hujan, tak satupu tetes air bahkan dalam wujud embun menetes dari langit. Tak tahan dengan keadaan ini, mereka kembali berunjuk rasa menagih janji Tuhan. Tentu saja Tuhan berdalih Bahwa Dia tidak pernah menjanjikan turunnya hujan kecuali berjanji akan menutupi cahaya matahari yang lama tak bersinar dibumi akan menyebabkan sangat sedikit air yang menguap dari lautan untuk menjadi awan dari mendung. Ujungnya, tentu saja hujan tak akan pernah turun lagi kebumi.
Seperti kisah petani dan penjual jas hujan itulah rupanya kebanyakan prilaku kita dihadapan takdir dalam semesta. Begitu banyak mengeluh untuk apa yang kita alami, hanya karena kita tidak mengetahui pasti makna yang tersembunyi di balik pristiwa yang terjadi. Penderitaan kita rasakan hanya sebagai penderitaan, dan kebahagiaan terbatas pada rasa bahagia. Padahal. Hidup ini sesungguhnya menyimpan banyak penderitaan yang membahagiakan atau kebahagiaan yang menderitakan.
Tugas matahari memang mengirimkan panasnya kebumi untuk menguapkan air yang ada di bumi. Dalam wawasan pengetahuan yang terbatas, tentu saja pesan matahari yang sesungguhnya yang menjadi awal dari terciptanya hujan tidak akan mudah dimengerti. Begitu pula dalam pemahaman bahwa penderitaan sebenarnya membuat manusia memahami kebahagiaan atau sebaliknya, tentu tidak mudah pula untuk di pahami dengan wawasan pikiran yang terbatas.
Ketidak pahamman seperti ini membuat kita mudah kecewa dan putus asa pada penderitaan dalam kehidupan. Dalam keputusan, mulailah kita gemar menghujat nasib dan takdir yang tanpa disadari sesungguhnya telah kita tetapkan sendiri bagi kehiduppan yang kita jalani saat ini. bahkan dalam kekecewaan atas doa-doa kita yang tak terkabul, kita mulai kehilangan keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada. Hingga suara hati dari dalam bertanya “jika tuhan pun tidak lagi kau yakini, lalu siapa lagi yang meski diyakini?” namun bagi mereka yang lkhlas dalam keyakinan bahwa doa mereka pasti terkabul, akan menerima segala peristiwa kehidupan sebagai rangkaian kerja semesta untuk mengabulakn doa atau merealisasi harapan mereka.
Sayangnya kebanyakan kita belum berlatih sabar dalam mengikuti proses alam demi terkabulnya doa kita. Justru kita mudah tergelincir untuk kehilangan keyakinan dan bahkan membalikkan doa dan harapan diawal menjadi rasa keputusan. Akibatnya , tentu saja kecerdassan alam metafisika akan menghentikan proses pengabulan doa awal karena baginya kita tidak lagi menginginkan hal itu.
Belajar dari keyakinan alam bahwa hujan yang dingin sesungguhnya tercipta dari cahaya matahari yang panas, rupanya layak bagi kita untuk mencoba melihat sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Saat berharp kebahagiaan, perjalanan kerap dimulai dengan terpahatnya jejak-jejak penderitaan. Sebaliknya, penderitaan yang menanti di depan kerap tersembunyi di bakik sejumlah kebahagiaan yang sedang kita rasakan. Dengan cara ini alam mengajari kita agar selalu waspada sebelum menilai sebuah pristiwa. Kewaspadaan seperti ini membuat sejumlah orang yang telah terlatih, menjadi lebih stabil dalam suka duka kehidupan.
Tatkala penderitaan datang menghampiri kehidupan kita, yang justru menjadi pertanyaan, tidak lah ada yang salah dalam “doa-doa” yang tanpa sadar kita panjatkan melalui pikiran, kata, dan prilaku keseharian. Sebab, kita lah yang menciptakan setiap pristiwa yang kita alami ini melalui isi keseharian pikiran dan hati kita. Sedangkan, alam ada untuk memenuhi semua harapan itu.
Sekali lagi, matahari pencipta hujan tadi mengingatkan kitsuntuk tidak mudah terjebak pada kekecewaan terhadap kinerja alam semesta. Bukan alam yang salah bekerja, tetapi kitalah yang belum memahami rahasia kerja pikiran dan hari dalam membangun harapan. 
terima kasihh...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar