Minggu, 25 Oktober 2015

Gojek dan Ojek Pangkalan Saling Serang

Bandung, Polisi kewalahan untuk meredakan masalah yang sama-sama propesinya sebagai tukang ojek, tetapi ini saling serang dan sampai melakukan anarkis. Ini terjadi di Cibiru, Kota Bandung dimana tukang Ojek pangkalan dengan Gojek saling pukul. Memang sekarang-sekarang ini lagi trennya masyarakat yang menggunakan Gojek karena dianggap nyaman dalam pelayanannya dan juga bisa tepat waktu.
            Tetapi hal ini menyebabkan kecemburuan yang sangat besar oleh Ojek Pangkalan, karena yang mereka takutkan beralihnya para pengguna Ojek Pangkalan kepada Gojek yang sudah modern. Salah satu dari pihak Ojek Pangkalan mengatakan “permasalahan ini berawal dari pihak Gojek yang mengantar jemput pelanggannya, dengan memasuki kawasan yang seharusnya itu untuk Ojek Pangkalan,” Ujar Ayi selaku tukang Ojek Pangkalan.
Salah satu pihak kepolisian mengatakan “ini berawal dari salah saatu Gojek yang dipukul sama botol oleh salah satu tukang Ojek Pangkalan, sampai saat ini orang tersebut masih sirawat di rumah sakit, yang kami takutkan terjadi ketika malam hari dan akan mengganggu masyarakat umum,” Ujar Fazar dari pihak kepolisian.
            Semakin sore para Ojek Pangkalan pun semakin banyak, mereka datang dari berbagai tempat yang berada di sekitar Bandung Timur, datangnnya dari pihak kepolisian ketempat kejadian membuat situasi membaik, dan di sekitar Bunderan Cibiru pun semakin diperketat, terlihat banyaknya personil kepolisian yang sudah siap untuk mengamankan situasi,
Reporter          : ILYAS

Pengajian Ibu-ibu di Pimpin Oleh Ibu Agam

buakan hanya kaum laki-laki yang suka mengadakan pengajian rutin, ibu-ibu pun selalu mengadakan pengajian rutin di masjid, 
Bandung, Ibu-ibu yang berada di lingkungan masjid Al-Ikhlas, Rw 09, Lio Utara, Desa Cibiru, Kecamatan Cipadung, Kota Bandung suka mengadakan acara pengajian. Ibu-ibu ini sudah menjadi kebiasaan melakukan pengajian di masjid yang berada Lio Utara, karena dengan penuh semangat para ibu-ibu ini terus mengajak yang lainnya agar aktif dalam pengajian.
            Ibu-ibu disini dengan semangat membangun kekompakan dan menjaga silaturahminya dengan cara mengaktifkan pengajian, ini dilakukan secara rutinan, Ibu-ibu mengadakan pengajiannya dalam satu minggu dua kali, yaitu pada hari minggu jam 15:30 sampai selesai dan kamis malam jum’at jam 18:30 sampai selesai, dan ini sudah menjadi rutinan bagi ibu-ibu yang berada di lingkungan masjid Al-Ikhlas.
Ibu Agam selaku penggerak dan pemimpin pengajian ibu-ibu yang berada lingkungan masjid Al-Ikhlas. Ibu Agam sangat senang ketika warganya dengan semangat mengikuti pengajian yang sudah menjadi rutinan bagi warga Lio Utara. “ibu merasa senang dengan semangatnya ibu-ibu yang selalu mengikuti pengajian”. Ujarnya (16/10)

“Berkat ibu Agam yang selalu mengajak warga Lio Utara dalam kebaikan masjid ini semakin hangat dan semakin terasa nuansa keislamannya, Ia juga sering aktif ketika ada pengajian yang di tempat lain”. ujar ibu Nanin selaku warga (16/10), sekarang di masjid Al-Ikhlas ini setiap hari minggu jam 15:30 sampai selesai dan Kamis malam Jum’at jam 18:30 sampai selesai selalu ramai dengan ibu-ibu pengajian.

Reporter        : ILYAS

Masyarakat Terbiasa Mengadakan Yasinan di Malam Jum’at

Tahlialan dan yasinan sudah menjadi kebiasaan warga untuk mendo’akan keluarga, kerabat ataupun guru-guru kita yang sudah meninggal, dan ini bukan hal yang bid’ah melainkan ini hal yang positif.

     Kegiatan rutinan warga yang ada di RW 09, Lio Utara, kec. Cipadung, Kota. Bandung. Yang sudah menjadi tradisi bagi warga ketika datangnya malam jumat untuk mengikuti tahlilan dan yasinan, di masjid Al-Ikhlas ini sering digunakan bukan hanya untuk tahlilan dan yasinan saja, ketika selesai maghrib pun sering diakan pengajian anak-anak dan setiap hari minggu suka di adakan pengajian oleh ibu-ibu.
Berbagai lapisan masyarakat yang berada di lingkungan masjid Al-Ikhlas, sudah menjadi kegiatan rutinan ketika datangnya malam jum’at dimana masyarakat Lio Utara datang kemasjid untuk tahlilan dan yasinan bersama, dan kegiatan tahlilan / yasinan ini terus terjaga oleh para tokoh masyarakat, agar bisa mempererat tali silaturahmi.
Yasinan ini pun di pimpin oleh Kyai Drs. Idas Baihaqi, sebagai tokoh masyarakat setempat, dan warga pun mengikuti dengan khusyu dan tertib.
“tahlilan ini sudah menjadi rutinan bagi warga yang berada di Lio Utara dan yang diluar lingkungan ini, karena itu saya selaku ketua DKM ingin terus mengajak kepada semua warga agar tetap menjaga rutinan ini.” ujarnya.
Semangat masyarakat yang berada di lingkungan masjid Al-Ikhlas ini ketika mengikuti tahlilan dan yasinan, ini menjadi sebuah kebanggaan bagi warga yang berada di lingkungan sekitar, karena masyarakat terasa nyaman dengan adanya kegiatan yasinan dan tahlilan rutinan ini. Nuansa keagamaan di lingkungan ini pun terasa begitu kental, maka dari itu masyarakat selalu menjaga dengan baik.
Reforter           ilyas, 


Lahan Yang Kurang, Mengakibatkan Jamaah Sholat di Halaman Rumah Warg

Ini lah realitanya ketika masjid tempat ibdah sudah tidak bisa menampung lagi, para jemaah sholat jumat pun terpaksa sholat di tempat sempit yang berada dihalaman rumah warga. Hal yang seperti ini seharusnya lebih diperhatikan lagi.

BANDUNG, Sudah beberapa pekan ini para jamaah sholat jumat di Masjid Al-Ikhlas yang berada di Lio Utara, Manisi, Bandung terlihat kurang tertib dengan adanya jamaah yang berada di halaman rumah warga. Kondisi ini disebabkan kurang luasnya area masjid, karena keterbatasan lahan.
Para Jemaah jum’at yang menggunakan masjid Al-Ikhlas ini sudah tidak bisa menampung para jamaah lagi dikarnakan membeludaknya warga yang menggunakan tempat tersebut. Menurut bapak Medi Penyebabnya adalah kurang luasnya area masjid Al-Ikhlas ini.
“Masjid yang kecil, dan tidak mungkin untuk di perluas lagi, dikarnakan lahan yang sempit. Ujarnya. (2/10)
Akibatnya para jamaah pun banyak yang memanfaatkan halaman kosong, agar bisa mengikuti sholat jum’at berjamaah, para jamaah pun rela berdiri dibawah panasnya terik matahari dengan memakai tikar dari Koran dan dilapisi dengan sajadah. Kurangnya perhatian dari pengurus masjid  hingga menjadi sebab sehingga pelaksanaan sholat jum’at kurang tertib.
Reforter : Ilyas 



Merayakan Hari Raya Idul Adha

Menyembelih hewan kurban adalah salah satu syarat dalam hukum Islam dimana kita di haruskan untuk menyembelih hewan yang sehat seperti sapi, kerbau, kambing dan lain sebagainya, ini dilakukan dibulan Zulhijjah, dan bagi masyarakat diharuskan untuk suka cita dan bergembira ketika datang hari raya Idul Adha,

      Pelaksanaan Idhul Adha di Desa Neglasari Kec.Purabaya Kab. Sukabumi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena baru pertama kali saya menjadi panitia kurban pada Idul Adha kali ini, Kamis (24/9) yang dilakukan di halaman pesantren Al-Ikhsan.
Pasalnya pengurusan hewan kurban tahun ini tidak lagi hanya panitia, namun banyak dari masyarakat yang bukan panitia di masjid Al-Ikhsan turut serta dalam pengurusan hewan qurban. Bahkan K.H. Muhammad Azid selaku ketua panitia qurban mengharuskan para anak muda ikut serta  dalam proses pengurusan 7 hewan qurban tahun ini.
“Alhamdulilah ditahun sekarang ibu-ibu pun ikut serta dalam pengurusan hewan kurban dan berbagai lapisan masyarakat berkumpul untuk silaturahmi” ujar K.H Muhammad Azid (24/9)
K.H Muhammad Azid juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah ikut berkurban pada Idul Adha kali ini. Setelah selesai memotong dan membersihkan daging qurban, panitia langsung membagikan daging qurban kepada masyarakat yang berada di sekitar pondok pesantren Al-Ikhsan.





Rabu, 20 Mei 2015

MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN



MENANTI HUJAN DARI MATAHARI

 
Cobalah saudara/i baca dengan pikiran yang tenang dan jiwa yang damai
assalamualaikum wr.wb
Suatu ketika sekelompok petani bergabung dengan sekelompok penjual payung dan jas hujan melakukan demo kerumah suci Tuhan. Mereka berunjuk rasa memprotes panas matahari sepanjang musim kemarau yang membuat sawah mereka kekeringan. Dan hujan yang tak oernah datang lebih dari sepuluh tahun itu membuat penjual jas hujan tidak mendapat penghasilan sama sekali.
Tuhan yang maha mendengar tentu saja memahami perasaan dan keinginan dari sekelompok ummatnya tersebut. Namun untuk mengajari mereka kebenaran, sesuatu harus ddilakukan. Dengan kuasanya, maka ditutupilah cahaya matahari dengan bulan selama siang hari sepanjang musim kemarau. Para petani dan penjual jas hujan gembira luar biasa karena do’a mereka di dengar dan dikabulkan Tuhan. Mualilah mereka berharap dan menunggu datangnya hujan.
Berbulan-bulan dinantikan, nyatanya hujan tak juga kunjung datang. Padahal matahari sudah tak lagi bersinar trik dan panas akibat gerhana. Bahkan ketika musim sudah semestinya memasuki masa hujan, tak satupu tetes air bahkan dalam wujud embun menetes dari langit. Tak tahan dengan keadaan ini, mereka kembali berunjuk rasa menagih janji Tuhan. Tentu saja Tuhan berdalih Bahwa Dia tidak pernah menjanjikan turunnya hujan kecuali berjanji akan menutupi cahaya matahari yang lama tak bersinar dibumi akan menyebabkan sangat sedikit air yang menguap dari lautan untuk menjadi awan dari mendung. Ujungnya, tentu saja hujan tak akan pernah turun lagi kebumi.
Seperti kisah petani dan penjual jas hujan itulah rupanya kebanyakan prilaku kita dihadapan takdir dalam semesta. Begitu banyak mengeluh untuk apa yang kita alami, hanya karena kita tidak mengetahui pasti makna yang tersembunyi di balik pristiwa yang terjadi. Penderitaan kita rasakan hanya sebagai penderitaan, dan kebahagiaan terbatas pada rasa bahagia. Padahal. Hidup ini sesungguhnya menyimpan banyak penderitaan yang membahagiakan atau kebahagiaan yang menderitakan.
Tugas matahari memang mengirimkan panasnya kebumi untuk menguapkan air yang ada di bumi. Dalam wawasan pengetahuan yang terbatas, tentu saja pesan matahari yang sesungguhnya yang menjadi awal dari terciptanya hujan tidak akan mudah dimengerti. Begitu pula dalam pemahaman bahwa penderitaan sebenarnya membuat manusia memahami kebahagiaan atau sebaliknya, tentu tidak mudah pula untuk di pahami dengan wawasan pikiran yang terbatas.
Ketidak pahamman seperti ini membuat kita mudah kecewa dan putus asa pada penderitaan dalam kehidupan. Dalam keputusan, mulailah kita gemar menghujat nasib dan takdir yang tanpa disadari sesungguhnya telah kita tetapkan sendiri bagi kehiduppan yang kita jalani saat ini. bahkan dalam kekecewaan atas doa-doa kita yang tak terkabul, kita mulai kehilangan keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada. Hingga suara hati dari dalam bertanya “jika tuhan pun tidak lagi kau yakini, lalu siapa lagi yang meski diyakini?” namun bagi mereka yang lkhlas dalam keyakinan bahwa doa mereka pasti terkabul, akan menerima segala peristiwa kehidupan sebagai rangkaian kerja semesta untuk mengabulakn doa atau merealisasi harapan mereka.
Sayangnya kebanyakan kita belum berlatih sabar dalam mengikuti proses alam demi terkabulnya doa kita. Justru kita mudah tergelincir untuk kehilangan keyakinan dan bahkan membalikkan doa dan harapan diawal menjadi rasa keputusan. Akibatnya , tentu saja kecerdassan alam metafisika akan menghentikan proses pengabulan doa awal karena baginya kita tidak lagi menginginkan hal itu.
Belajar dari keyakinan alam bahwa hujan yang dingin sesungguhnya tercipta dari cahaya matahari yang panas, rupanya layak bagi kita untuk mencoba melihat sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Saat berharp kebahagiaan, perjalanan kerap dimulai dengan terpahatnya jejak-jejak penderitaan. Sebaliknya, penderitaan yang menanti di depan kerap tersembunyi di bakik sejumlah kebahagiaan yang sedang kita rasakan. Dengan cara ini alam mengajari kita agar selalu waspada sebelum menilai sebuah pristiwa. Kewaspadaan seperti ini membuat sejumlah orang yang telah terlatih, menjadi lebih stabil dalam suka duka kehidupan.
Tatkala penderitaan datang menghampiri kehidupan kita, yang justru menjadi pertanyaan, tidak lah ada yang salah dalam “doa-doa” yang tanpa sadar kita panjatkan melalui pikiran, kata, dan prilaku keseharian. Sebab, kita lah yang menciptakan setiap pristiwa yang kita alami ini melalui isi keseharian pikiran dan hati kita. Sedangkan, alam ada untuk memenuhi semua harapan itu.
Sekali lagi, matahari pencipta hujan tadi mengingatkan kitsuntuk tidak mudah terjebak pada kekecewaan terhadap kinerja alam semesta. Bukan alam yang salah bekerja, tetapi kitalah yang belum memahami rahasia kerja pikiran dan hari dalam membangun harapan. 
terima kasihh...